Apa Arti Mimpi Bertemu Orang Tua yang Sudah Tiada?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
- visibility 112
- comment 0 komentar

Pernah gak sih, di tengah malam yang sunyi, kamu terbangun dari mimpi—dada sesak, mata berkaca, dan hati kayak baru disapu angin masa lalu?
Dan yang kamu mimpikan… adalah orang tua yang sudah tiada.
Entah mereka sedang tersenyum, memeluk, menasihati, atau cuma duduk diam menatapmu—mimpi itu terasa terlalu nyata. Seolah mereka benar-benar hadir, mengisi ruang yang kosong sejak kepergiannya.
Dan saat bangun, kamu bengong. Antara mau percaya dan gak percaya.
Pertanyaannya muncul:
“Mimpi itu artinya apa ya?”
“Apakah mereka merindukan kita juga?”
“Atau mungkin… ada yang belum selesai?”
Ada orang yang setelah mimpi seperti itu langsung merasa damai. Kayak habis dipeluk dari jauh.
Tapi ada juga yang malah dihantui rasa bersalah:
“Kenapa dulu aku gak lebih sering pulang?”
“Kenapa aku ngomel waktu terakhir teleponan?”
“Apa aku anak yang cukup baik buat mereka?”
Padahal bisa aja…
Mimpi itu bukan datang untuk menyalahkan.
Tapi justru sebagai ruang untuk menyembuhkan.
Sebuah cara lembut dari alam bawah sadar kita buat ngajak bicara. Mengajak kita berdamai. Bukan cuma dengan mereka yang sudah tiada, tapi dengan versi diri kita yang pernah menyesal, pernah keras kepala, pernah lalai dalam mencintai.
Mimpi bertemu orang tua yang sudah meninggal itu…
bisa jadi bukan soal mereka.
Tapi soal kita.
Soal kenangan yang belum berani kita buka.
Soal kata “maaf” atau “terima kasih” yang belum sempat terucap.
Soal rindu yang selama ini kita bungkam karena takut rapuh.

Dan siapa tahu… mimpi itu hadir sebagai ruang.
Ruang yang gak bisa ditata di dunia nyata,
tapi bisa kita datangi dalam tidur.
Di sana, kita boleh menangis sepuasnya.
Boleh memeluk tanpa takut ditolak.
Boleh bilang “aku kangen” tanpa harus menjaga gengsi.
Tapi bukan berarti semua mimpi tentang orang tua adalah simbol kesedihan.
Ada juga yang datang dengan senyum. Dengan tawa. Dengan obrolan ringan, seperti saat mereka masih ada.
Mimpi kayak gitu seringkali terasa hangat. Kayak kunjungan singkat yang dikirim dari langit.
Dan anehnya… meskipun singkat, mimpi itu bisa bikin kita bertahan menghadapi kenyataan berhari-hari.
Lucu ya?
Kadang yang paling menguatkan justru datang dari mereka yang sudah pergi.
Ada orang yang percaya, saat kita memimpikan orang tua yang sudah tiada, artinya mereka sedang datang menjenguk.
Ada juga yang bilang itu cuma bunga tidur, hasil kerja otak yang lagi nyari makna dari kerinduan.
Tapi terlepas dari kamu percaya yang mana, satu hal yang pasti:
Mimpi itu hadir karena kita peduli. Karena masih ada ikatan yang gak bisa diputuskan waktu. Karena meski jasad mereka sudah gak ada, cinta mereka masih hidup di dalam kita.
Dan kadang, mimpi itu adalah bentuk paling halus dari cinta yang gak sempat selesai.
Coba deh bayangin…
Kalau selama ini kamu memimpikan mereka, mungkin bukan mereka yang “menyuruh” kita untuk terus bersedih.
Tapi mereka datang justru karena mereka tahu kamu kuat.
Mereka tahu kamu sedang butuh pelukan,
yang mungkin gak bisa kamu dapatkan dari dunia yang terus bergerak cepat.
Mereka datang… bukan untuk menakuti.
Tapi untuk mengingatkan:
“Kamu gak sendiri.”
“Ada doa kami yang masih menjagamu dari jauh.”
Dan yang paling penting:
“Kamu udah cukup baik.”
Jadi lain kali kamu bermimpi bertemu orang tua yang sudah tiada, jangan buru-buru takut.
Jangan juga langsung menafsirkan secara horor atau mistis.
Mungkin itu hanya cara hati dan jiwa…
mengobrol tanpa kata.
Menyentuh luka tanpa menyayat.
Dan mengajarkan kita bahwa kehilangan bukan akhir dari hubungan,
tapi hanya pergantian bentuknya.
Dari fisik ke kenangan.
Dari pelukan ke doa.
Dari suara ke mimpi.
Dan siapa tahu…
Mimpi itu bukan datang dari kita,
tapi kiriman cinta dari mereka—yang entah di mana,
masih ingin berkata:
“Aku sayang kamu. Selalu.”
Kalau sudah sampai sini, coba deh kamu tutup mata sebentar.
Tarik napas perlahan.
Bayangkan wajah mereka.
Dan bisikkan dalam hati:
“Terima kasih sudah pernah jadi rumah. Aku gak akan lupa.”
Karena kadang, yang dibutuhkan bukan tafsir…
tapi penerimaan.
Bahwa cinta yang dalam…
kadang menampakkan diri dalam mimpi paling sunyi.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar