Apa Arti Mimpi Dijodohkan Orang Tua?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
- visibility 93
- comment 0 komentar

Pernah gak sih, kamu mimpi dijodohin sama orang tua? Tiba-tiba dalam tidur kamu, ada wajah asing, baju adat, senyum-senyum kikuk, dan… orang tuamu bilang, “Nak, kenalin. Ini calonmu.”
Bangun-bangun, kamu bengong. Setengah geli, setengah cemas. Lah, siapa tuh barusan? Kenapa bisa-bisanya masuk ke mimpi? Dan kenapa orang tua seolah-olah jadi agen perjodohan?
Tapi coba deh kita lihat dari perspektif yang berbeda. Karena mimpi, sama kayak hidup, kadang bukan sekadar tentang apa yang kelihatan di permukaan. Bisa jadi, mimpi itu bukan soal perjodohan harfiah. Tapi tentang hal yang lebih dalam: relasi, harapan, dan… kadang juga tekanan yang tak pernah kamu sadari.
Mimpi dijodohkan bisa muncul dari banyak pintu. Bisa jadi itu cerminan dari kecemasan—bahwa kamu mulai merasa “ditunggu-tunggu” untuk menikah. Entah karena teman sebaya udah banyak yang posting prewed, atau karena tiap pulang kampung, kalimat “kapan nyusul?” makin sering mampir ke telinga.
Tapi… bisa juga mimpi itu muncul bukan karena kamu takut dijodohkan. Tapi karena kamu lagi bertanya-tanya dalam hati:
“Sebenernya, keputusan yang gue ambil selama ini… itu pilihan gue sendiri, atau pilihan yang udah dikemas cantik oleh ekspektasi orang-orang terdekat gue?”
Karena ya, kadang kita gak sadar. Kita sekolah di jurusan yang ‘katanya bagus’. Kerja di tempat yang ‘katanya keren’. Pacaran sama orang yang ‘katanya ideal’. Sampai akhirnya kita lupa nanya ke diri sendiri:
“Sebenernya gue mau gak sih?”
Mimpi dijodohkan itu kadang datang sebagai alarm. Bukan karena kamu bakal beneran dijodohin. Tapi karena ada sisi dalam dirimu yang lagi mencoba bernegosiasi. Antara: “gue pengen hidup sesuai standar gue sendiri”, dengan “gue gak mau ngecewain mereka yang gue sayang.”

Dan itu gak salah. Sama sekali gak salah.
Karena jadi dewasa tuh, salah satunya tentang itu: tentang berdiri di antara dua dunia. Dunia yang kamu bayangkan… dan dunia yang ingin dibentuk oleh orang-orang yang mencintaimu.
Jadi kalau kamu mimpi dijodohin, mungkin mimpimu lagi ngajak ngobrol. Bukan tentang siapa jodohmu, tapi tentang siapa yang sebenarnya pegang kendali atas hidupmu.
Apakah kamu hidup karena ingin membahagiakan orang tua?
Atau kamu ingin membahagiakan mereka dengan cara yang kamu pilih sendiri?
Dua-duanya bisa benar. Dua-duanya bisa indah. Asal kamu sadar, kamu yang memilih.
Dan kalau mimpi itu bikin kamu gelisah, coba pikirkan ini:
Orang tua, sebanyak apapun cinta dan niat baiknya, tetaplah manusia biasa. Mereka bisa takut kamu gak bahagia. Bisa khawatir kamu kesepian. Bisa berharap kamu punya ‘teman hidup’ biar hidupmu gak terasa berat.
Tapi kadang bentuk perhatian mereka hadir dalam wujud ‘menentukan’, bukan ‘menemani memilih’. Mimpi itu bisa jadi refleksi bahwa kamu sedang mencoba menyatukan dua hal yang sangat manusiawi: ingin bebas, tapi juga ingin dicintai.
Jadi bukan mimpi tentang ‘perjodohan’ yang perlu ditakuti. Tapi pesan di baliknya yang perlu direnungi.
Mungkin kamu belum siap menikah. Dan itu gak masalah.
Mungkin kamu pengen menikah, tapi bukan dengan cara yang ‘diatur’. Dan itu juga boleh banget.
Atau mungkin kamu mulai mikir:
“Apa iya… selama ini hidupku belum sepenuhnya gue yang jalani?”
Dan jujur aja ya, gak semua orang bisa sampai di titik berani bertanya kayak gitu. Banyak orang menjalani hidup kayak naik kereta—ikut jalur, duduk tenang, dan berharap semua baik-baik aja. Padahal kadang kita lupa, kita bisa turun, bisa pindah kereta, atau bahkan milih jalan kaki kalau memang itu bikin lebih bahagia.
Jadi… mimpi dijodohkan itu bukan akhir dunia. Bisa jadi itu awal dari percakapan yang perlu kamu mulai—dengan diri sendiri, dan mungkin… dengan orang tua.
Coba ngobrol, tanpa marah-marah. Tanyain, kenapa mereka pengen kamu cepet nikah? Apakah karena mereka khawatir, atau karena mereka gak tahu kamu sebenarnya lagi fokus ke mimpi yang lain?
Dan kamu juga bisa cerita. Tentang kenapa kamu belum ingin dijodohkan. Tentang bagaimana kamu lagi membangun jalanmu sendiri. Tentang gimana kamu gak menolak cinta, tapi ingin cinta itu hadir karena saling memilih, bukan karena ditentukan.
Akhirnya, mimpi itu bisa jadi bukan tentang jodoh…
tapi tentang kemerdekaan.
Tentang keberanian jadi diri sendiri, meski kadang terasa egois.
Tentang rasa hormat pada orang tua, tanpa harus mengorbankan diri sendiri.
Dan siapa tahu, setelah semua pembicaraan hati ke hati itu, kamu sadar…
Bahwa yang sebenarnya kamu cari bukan jodoh yang ‘dipilihkan’,
Tapi jodoh yang bisa berjalan berdampingan,
Di jalan yang kamu bangun dengan pilihanmu sendiri.
Jadi, kalau nanti mimpi itu datang lagi, jangan buru-buru takut.
Mungkin itu cuma semesta yang bilang:
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar