Apa Arti Mimpi Diusir dari Rumah?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
- visibility 72
- comment 0 komentar

Pernah gak kamu kebangun tengah malam, jantung deg-degan, keringat dingin, cuma karena mimpi… diusir dari rumah?
Kedengerannya sepele, tapi rasanya?
Gila.
Kayak ditampar kenyataan.
Ada rasa ditolak, gak diinginkan, bahkan seolah gak punya tempat buat pulang.
Tapi coba kita tarik napas, duduk sebentar, dan mikir dari sisi lain.
Apa iya, mimpi itu cuma sekadar bunga tidur? Atau… bisa jadi dia adalah cermin dari isi hati yang udah lama kita cuekin?
Mimpi diusir dari rumah tuh bukan melulu soal konflik literal sama keluarga atau orang rumah.
Bisa jadi itu simbol dari sesuatu yang lebih dalam:
perasaan terasing, ketidakcocokan, atau bahkan… perasaan bahwa kita udah gak ‘di rumah’ di tempat yang seharusnya bikin kita nyaman.
Kadang, rumah bukan soal tembok dan atap.
Tapi tentang perasaan diterima.
Tentang rasa aman yang gak perlu dijelaskan.
Tentang bisa jadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Dan ketika mimpi itu hadir—dimana kamu diusir dari tempat yang seharusnya paling mengenalmu—mungkin itu adalah alarm.
Bukan alarm “ada yang salah sama orang lain”.
Tapi bisa jadi, ada sesuatu dalam dirimu yang lagi berontak.
Nggak cocok.
Nggak sreg.
Nggak pengen terus-terusan pura-pura “baik-baik aja”.
Bayangin kamu mimpi, di tengah malam, ada suara keras: “Keluar kamu dari rumah ini!”
Lalu pintu ditutup.
Dunia mendadak senyap.
Kamu berdiri sendiri di luar, bingung harus ke mana.
Perasaan ditolak itu nyata.
Dan bisa jadi… itu refleksi dari apa yang kamu rasa dalam hidup nyata:
Mungkin kamu lagi ngerasa gak diterima di lingkungan kerja.
Atau lagi ngerasa gak didengar di rumah sendiri.
Atau… lagi ngerasa jauh dari diri kamu sendiri.

Mimpi kayak gini kadang muncul bukan buat nakutin, tapi buat ngingetin.
Bahwa kamu butuh ‘rumah’.
Bukan cuma tempat tinggal. Tapi tempat hati bisa tenang.
Kadang kita terlalu sibuk ngikutin ekspektasi orang.
Terlalu sibuk nyenengin semua orang.
Sampai lupa nanya ke diri sendiri:
“Gue sebenernya nyaman gak sih di sini?”
“Tempat ini masih jadi rumah buat gue?”
“Atau gue cuma pura-pura betah, biar gak nyakitin perasaan orang lain?”
Banyak orang bilang: mimpi itu cuma hasil dari apa yang kita pikirin sebelum tidur.
Tapi bisa juga… mimpi itu justru ngebongkar apa yang kita sembunyiin selama ini.
Perasaan-perasaan yang gak pernah kita kasih ruang buat muncul di siang hari.
Rasa takut.
Rasa capek.
Rasa lelah jadi ‘anak baik’ yang harus selalu ngerti dan sabar.
Mimpi diusir dari rumah tuh kadang bukan tentang orang lain yang nolak kita,
tapi kita yang belum nerima diri sendiri sepenuhnya.
Tapi gak semua mimpi itu harus ditelan mentah-mentah dan ditafsirkan dramatis.
Bisa juga mimpi itu cuma muncul karena kamu nonton drama sinetron sebelum tidur.
Atau kamu lagi stres karena tugas, kerjaan, atau konflik sepele yang bikin hati gak tenang.
Yang penting adalah, gimana kamu merespons perasaan itu.
Mau kamu anggap itu pertanda, pesan, atau cuma mimpi biasa—yang jelas, perasaanmu valid.
Kalau setelah mimpi itu kamu bangun dengan dada sesak, mungkin itu sinyal.
Sinyal bahwa ada yang harus kamu obrolin.
Sama diri sendiri.
Atau sama orang-orang terdekat.
Kadang kita cuma butuh didengar.
Atau cukup, nulis isi hati sendiri di catatan hp, lalu tarik napas dalam.
Karena mimpi itu, meski gak nyata…
rasa yang ditinggalkannya sering kali lebih jujur dari apapun yang bisa kita akui saat sadar.
Dan satu hal lagi.
Kalau kamu pernah mimpi diusir dari rumah, terus ngerasa takut, sedih, bingung…
Itu gak bikin kamu lemah.
Itu gak bikin kamu drama.
Itu bikin kamu manusia.
Karena manusia tuh bukan cuma butuh tempat tidur, tapi juga tempat pulang—dalam arti yang paling emosional.
Jadi daripada langsung panik atau mikir “Aduh ini pertanda buruk ya?”,
coba tanya ke hati kamu:
“Apa yang lagi aku rasa belakangan ini?”
“Kenapa rumah, yang harusnya jadi tempat ternyaman… justru muncul dalam mimpi sebagai tempat penolakan?”
Mungkin udah saatnya kamu bikin ulang definisi “rumah”.
Mungkin rumah bukan lagi soal gedung.
Tapi soal siapa yang bikin kamu merasa diterima.
Dan yang paling penting, apakah kamu udah jadi ‘rumah’ buat dirimu sendiri?
Karena gak peduli seberapa besar rumah orang lain,
kalau di dalam hati kamu sendiri gak ada ruang buat memeluk luka dan nerima diri apa adanya,
ya kamu akan terus mimpi—tentang diusir.
Tapi kalau kamu udah mulai pelan-pelan berdamai,
maka rumah itu akan hadir.
Mungkin bukan secara fisik.
Tapi di sini, di hati.
Tempat kamu bisa pulang.
Kapan aja.
Tanpa takut diusir lagi.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar