Apa Arti Mimpi Menghadiri Pemakaman?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
- visibility 84
- comment 0 komentar

Pernah gak kamu mimpi ikut pemakaman?
Gak serem sih… tapi rasanya tuh aneh. Hening. Haru. Tapi juga bikin was-was.
Pas bangun, rasanya kayak abis dari perjalanan panjang yang melelahkan, padahal cuma tidur beberapa jam.
Pertanyaannya:
Apa iya mimpi kayak gitu pasti berarti sesuatu yang buruk?
Atau… bisa jadi, itu justru cara alam bawah sadar kita ngajak ngobrol. Ngasih sinyal. Ngetuk pintu hati yang udah lama ketutup.
Gini…
Mimpi hadir di pemakaman bukan cuma soal “kematian” dalam artian harafiah. Kadang, itu simbol. Tentang sesuatu yang udah selesai. Tentang bagian dari hidup yang harus dilepas. Tentang rasa duka atas kehilangan yang… mungkin gak pernah sempat kita tangisi.
Bisa jadi itu tentang mantan yang udah lama kita bilang “udah move on kok”, padahal masih nyangkut.
Atau tentang mimpi lama yang dulu kita perjuangkan, tapi akhirnya kita kubur sendiri karena realita lebih kejam dari ekspektasi.
Bisa juga tentang diri kita yang dulu — versi polos dan penuh semangat — yang perlahan kita tinggalkan karena dunia ini terlalu keras buat ketulusan.
Dan kalau kamu di mimpi itu bukan sekadar nonton, tapi beneran hadir, berdiri di antara pelayat…
mungkin mimpi itu pengen bilang:
“Kamu udah siap belum ngelepas semua itu?”
Iya, kadang kita mikir kita udah let go.
Padahal yang kita lakuin cuma menghindar.
Kita pura-pura sibuk, pura-pura bahagia, pura-pura kuat. Tapi hati masih nyimpen.
Masih ada sedih yang belum diselesaikan.

Ada juga yang mimpi kayak gini pas lagi lelah-lelahnya hidup.
Bukan karena trauma masa lalu, tapi karena tekanan masa kini.
Kerjaan gak selesai-selesai, ekspektasi orang lain makin tinggi, kita dituntut untuk selalu “baik-baik aja” — padahal aslinya kita pengen teriak, “GUE CAPEK!”
Dan pemakaman dalam mimpi itu, bisa jadi representasi dari keinginan untuk istirahat. Untuk berhenti sebentar.
Untuk punya ruang di mana kita boleh lemah, boleh nangis, boleh gak ngerti harus gimana.
Bukan berarti kamu pengen mati. Bukan. Tapi kamu pengen berhenti jadi “kuat” terus-terusan.
Atau bisa jadi…
mimpi itu datang pas kamu lagi merasa bersalah.
Mungkin kamu pernah kehilangan seseorang — bukan karena meninggal, tapi karena jarak. Waktu. Atau kesalahan.
Dan kamu gak sempat minta maaf.
Atau… kamu gak sempat bilang makasih.
Dan mimpi itu kayak semacam ruang alternatif, di mana kamu bisa hadir di momen perpisahan itu.
Biarpun cuma dalam mimpi.
Karena jiwa tahu cara menyembuhkan diri sendiri.
Kadang lewat tangis. Kadang lewat diam. Kadang lewat mimpi.
Tapi ya…
sama kayak kita gak bisa asal menilai orang dari gayanya, kita juga gak bisa mengartikan mimpi secara mentah.
Misalnya, kamu mimpiin pemakaman dan langsung googling “arti mimpi pemakaman”.
Terus nemu tulisan: “Pertanda buruk!”, atau “Akan ada kabar duka!”
Langsung panik.
Padahal…
Belum tentu itu makna sebenarnya buat kamu.
Karena mimpi itu sangat personal.
Artinya tergantung dari siapa yang mimpi, kapan dia mimpi, dan apa yang lagi dia rasain.
Kayak orang ngasih kado, gak semua kado berarti sama ke semua orang.
Kalau kamu ngasih cokelat ke orang yang baru patah hati, mungkin dia bakal nangis. Tapi kalau ke orang yang lagi jatuh cinta, dia bisa senyum semalaman.
Begitu juga mimpi.
Intinya:
Mimpi menghadiri pemakaman bukan selalu tentang “kematian”.
Bisa jadi tentang transformasi.
Penutupan.
Lepas dari masa lalu.
Atau sekadar peringatan:
“Hei, kamu udah terlalu lama memendam. Boleh lho kalau kamu sedih.”
Dan kadang, lewat mimpi seperti itu, semesta ngajak kita untuk refleksi:
“Kamu lagi kehilangan siapa?”
“Atau… kamu lagi kehilangan bagian dari dirimu sendiri?”
Jadi, sebelum buru-buru bilang itu firasat buruk…
coba tarik napas dalam-dalam.
Ingat mimpi itu bukan vonis, tapi pesan.
Bukan kutukan, tapi cermin.
Dan kalau kamu merasa galau setelahnya, bukan berarti kamu lemah.
Itu tandanya kamu masih punya hati.
Masih peduli.
Masih manusia.
Karena terkadang…
yang kita hadiri dalam pemakaman mimpi itu,
bukan jenazah orang lain.
Tapi bagian dari diri kita sendiri
yang akhirnya kita relakan untuk pergi.
Dan itu… adalah bentuk keberanian paling tenang yang bisa kita miliki.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar