Apa Arti Mimpi Melihat Bayi Menangis?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
- visibility 68
- comment 0 komentar

Pernah gak kamu mimpiin bayi yang nangis?
Bukan mimpi punya bayi. Bukan juga mimpi gendong bayi lucu. Tapi mimpi ngeliat bayi yang menangis. Sendirian. Matanya sembab, suaranya lirih, atau malah teriak-teriak kayak butuh pertolongan.
Kebanyakan orang bangun dari mimpi itu dengan perasaan ganjil. Campur aduk antara khawatir, bingung, dan… sedih entah kenapa.
Tapi pernah gak kamu coba berhenti sebentar dan mikir:
“Jangan-jangan bayi itu… bukan sekadar bayi?”
Karena dalam mimpi, gak semua yang muncul itu harfiah. Kadang dia hadir sebagai simbol. Sebagai pesan. Sebagai potongan hati kita yang lagi nyari suara.
Dan bayi yang menangis itu… bisa jadi adalah bagian dari dirimu sendiri yang selama ini kamu abaikan.
Bayi dalam mimpi sering dilambangkan sebagai sesuatu yang murni. Lugu. Tak bersalah. Tapi juga rapuh. Bisa jadi itu cerminan dari:
- Luka lama yang belum sembuh
- Harapan kecil yang pernah kamu punya, tapi kamu tinggalin
- Sisi lembut dari dirimu yang selama ini kamu tutup rapat demi “tampil kuat”
Tangisannya? Itu jeritannya.
Mungkin dia bilang, “Hei, tolong lihat aku. Aku pernah punya mimpi, tapi kamu biarin aku kelaparan di sudut hati kamu.”
Atau dia mungkin cuma pengen dipeluk. Ditenangin. Diakui.
Bukan cuma di mata orang lain. Tapi di matamu sendiri.
Kadang mimpi bayi menangis datang pas kita lagi ngelewatin masa yang serba penuh tuntutan. Semua orang ngelihat kita sebagai “dewasa”. Harus kuat. Harus bisa. Harus terus jalan.
Padahal ada bagian dalam diri kita yang capek. Yang pengen nangis juga. Tapi gak bisa. Gak sempat. Gak diizinkan.
Dan mimpi itu datang, bukan buat nakut-nakutin. Tapi buat nyadarin.

Kalau ada sisi dari dirimu yang juga butuh perhatian. Butuh ditenangkan. Bukan buat dimarahin, disuruh diam, atau disuruh move on.
Tapi buat dipeluk. Disayangin. Diterima.
Coba bayangin kayak gini…
Ada seorang anak kecil yang selama ini kamu bawa-bawa ke mana-mana. Kadang kamu cuekin. Kadang kamu bentak karena dia bikin kamu lambat. Kadang kamu tinggalin di belakang karena kamu harus “berhasil”.
Padahal dia cuma pengen ditemenin. Dengar cerita kamu. Main sebentar. Atau sekadar duduk diam di sebelahmu, tanpa dihakimi.
Dan suatu malam… dia muncul. Lewat mimpi. Nangis. Karena dia rindu kamu.
Mimpi memang sering dianggap sepele. Bunga tidur katanya.
Tapi kadang, bunga tidur itu adalah bunga yang tumbuh dari akar paling dalam—dari hal-hal yang kita gak sempat lihat waktu bangun.
Jadi saat kamu mimpiin bayi menangis, coba tanya ke diri sendiri:
“Ada bagian dari hidupku yang lagi kesepian gak?”
“Ada mimpi kecil yang aku kubur dalam-dalam demi realistis?”
“Atau ada perasaan yang selama ini aku tahan, dan sekarang dia nyari jalan keluar?”
Karena tangisan di mimpi… bisa jadi adalah suara hati yang paling jujur.
Tapi… gak semua mimpi bayi menangis harus dimaknai berat juga sih.
Kadang, itu memang refleksi dari hari-harimu. Mungkin kamu baru nonton film tentang anak-anak. Atau denger suara bayi nangis dari tetangga, dan otakmu merekam itu tanpa sadar.
Tapi kalau kamu mimpi ini lebih dari sekali… dan rasanya selalu sama—mengganggu, bikin kamu bangun dengan perasaan ganjil—itu mungkin bukan kebetulan.
Itu panggilan buat istirahat. Bukan cuma secara fisik, tapi juga secara batin.
Kita hidup di zaman yang semuanya serba cepat. Serba harus bisa. Serba harus tangguh.
Tapi jadi manusia juga berarti, kita punya ruang untuk rapuh.
Dan gak ada yang salah dengan itu.
Kalau bayi dalam mimpimu menangis, mungkin kamu cuma perlu berhenti sebentar… dan dengerin.
Jangan buru-buru “menenangkan” dengan logika. Cukup temani. Dengar baik-baik. Dan tanya perlahan:
“Kamu butuh apa?”
“Bagian mana dari aku yang selama ini aku abaikan?”
Karena kadang… yang kita pikir cuma mimpi aneh, justru adalah panggilan paling jujur dari hati kita sendiri.
Dan saat kamu bisa peluk si bayi itu—entah itu harapanmu, lukamu, atau sisi lembutmu yang terlupakan—kamu akan sadar…
Ternyata… menangis pun bisa jadi jalan pulang.
Pulang ke dirimu sendiri.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar