Apa Arti Mimpi Terjebak Badai Salju?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
- visibility 61
- comment 0 komentar

Pernah gak, kamu kebangun tengah malam karena mimpi kamu lagi ada di tengah badai salju?
Udara dingin, langit putih kelabu, angin menderu—dan kamu berdiri di sana, sendirian, gak tahu harus ke mana. Rasanya kayak dunia nge-freeze. Bukan cuma secara cuaca, tapi juga secara batin.
Nah, mimpi kayak gitu tuh bukan cuma sekadar efek nonton film survival malam sebelumnya atau akibat suhu AC kamar yang kelewat dingin. Bisa jadi, itu adalah bahasa diam dari hati kamu yang lagi… ya, beku. Beku karena capek. Beku karena terlalu banyak yang dipendam. Atau mungkin… beku karena udah terlalu lama gak ngerasa hangat dari siapa-siapa.
Mimpi tentang badai salju sering banget dikaitkan dengan rasa terjebak—bukan secara fisik, tapi emosional.
Kamu tahu kan, perasaan saat kita gak bisa cerita ke siapa pun, takut salah paham, takut dibilang drama, takut dibilang lebay. Jadi kita simpan semuanya sendiri. Kayak tumpukan salju yang makin lama makin berat di atas atap rumah. Diam-diam tapi pelan-pelan bisa bikin roboh juga.
Dan badai salju dalam mimpi itu… ya simbol dari itu semua. Simbol dari chaos yang tenang. Gak kayak badai petir yang ribut, badai salju tuh diam. Tapi dalam diamnya, dia menenggelamkan banyak hal. Rumah. Jalanan. Bahkan diri sendiri.
Mungkin kamu lagi di fase hidup yang ngerasa kehilangan arah. Semua keliatan putih. Kosong. Gak ada warna. Gak tahu harus mulai dari mana, atau mau ke mana. Dan semua orang di sekitar kamu sibuk sama urusan masing-masing, gak sadar kamu lagi berdiri kedinginan sambil berjuang biar gak tumbang.
Tapi, coba deh pikir gini…
Apa iya badai salju itu selalu buruk?
Atau jangan-jangan… itu juga cara alam buat bilang: “Berhenti dulu.”

Berhenti dari lari. Berhenti dari pencitraan. Berhenti dari keinginan untuk selalu kuat padahal udah mau meledak. Kadang, badai itu datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memaksa kita diam. Untuk memaksa kita masuk ke dalam rumah, nyalain perapian, dan menatap ke dalam diri.
Karena lucunya hidup itu ya… kita lebih sering sibuk menyelamatkan banyak hal di luar, tapi lupa memeluk diri sendiri yang udah menggigil kedinginan di dalam.
Bisa jadi mimpi itu muncul karena kamu sedang perlu “hangat.” Bukan hangat fisik ya, tapi hangat yang datang dari merasa dimengerti. Hangat karena gak perlu pura-pura kuat. Hangat karena ada yang duduk di samping kamu dan bilang, “Gak apa-apa kalau lagi gak baik-baik aja.”
Dan mungkin kamu juga sadar, bahwa selama ini kamu yang selalu jadi penghangat buat orang lain. Kamu yang selalu nyiapin selimut, teh panas, dan pelukan buat semua yang butuh. Tapi ketika kamu kedinginan… siapa yang kamu panggil?
Mimpi terjebak badai salju juga bisa jadi pengingat, bahwa kita gak bisa selalu mengandalkan kekuatan sendiri. Kadang kita butuh ‘pondok kecil’—entah itu teman, pasangan, Tuhan, atau bahkan tulisan-tulisan kayak gini—yang jadi tempat berlindung sementara.
Badai, sekeras apa pun, pasti punya ujung. Salju, sedingin apa pun, pada akhirnya akan mencair.
Tapi pertanyaannya… kamu mau nunggu badai itu lewat sendirian? Atau kamu mau mulai belajar ngebuka diri, walau cuma sedikit, buat bilang, “Gue lagi butuh temen ngobrol.”
Dan inget ya…
Gak semua orang tahu caranya hadir. Tapi bukan berarti kamu harus terus merasa sendiri. Kadang, kamu cuma perlu ngasih kode lebih jelas. Karena gak semua orang bisa baca dinginnya salju di mata kamu.
Akhir kata, kalau kamu mimpi terjebak di badai salju…
Jangan cuma tanya: “Artinya apa ya?”
Tapi coba tanya ke diri sendiri: “Bagian mana dari hidup gue yang lagi kedinginan? Siapa yang gue harap datang bawa kehangatan? Atau… udah saatnya gue belajar bikin api buat diri sendiri?”
Karena kadang, satu-satunya hal yang kita perlukan bukan jalan keluar… tapi keyakinan bahwa kita gak benar-benar sendirian di dalam badai itu.
Dan badai… sekuat apa pun, tetap punya batas waktu.
Kalau kamu lagi di dalamnya sekarang—tenang. Ini cuma jeda. Bukan akhir.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar