Apa Arti Mimpi Bermain di Taman Bermain?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
- visibility 74
- comment 0 komentar

Pernah gak sih kamu mimpi main ayunan di taman? Atau naik perosotan, jungkat-jungkit, sambil dengerin suara anak-anak tertawa lepas di sekelilingmu?
Sekilas, mimpi kayak gitu tuh kelihatan sepele. Lucu, imut, bahkan mungkin terasa menggelikan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi…
Mimpi itu bisa jadi punya arti yang lebih dalam daripada sekadar nostalgia masa kecil.
Karena coba deh tanya ke diri sendiri:
Kenapa otak kita, di saat tidur, malah ngajak kita main di taman bermain?
Kenapa bukan mimpi dapet promosi, atau jalan-jalan ke luar negeri, atau dapet hadiah motor listrik dari undian Alfamart?
Kenapa taman bermain?
Mungkin karena ada bagian dari diri kita… yang lagi kangen sama hal-hal sederhana.
Sama tawa yang lepas.
Sama rasa bebas.
Sama masa ketika jatuh itu cuma soal lutut yang lecet, bukan hati yang remuk.
Dan mimpi itu, datang bukan buat lucu-lucuan. Tapi buat ngingetin.
Bahwa seberat-beratnya hidup sekarang, pernah ada masa ketika kita gak mikirin cicilan, deadline, validasi, atau tekanan dari sekitar.
Pernah ada masa ketika satu-satunya hal penting adalah… giliran kita main ayunan kapan.
Dan dalam mimpi, tubuh kita seolah diajak pulang ke momen itu.
Pulang ke versi diri yang polos, jujur, dan apa adanya.

Tapi…
bisa juga, mimpi itu datang bukan karena kangen, tapi karena luka.
Kadang kita gak sadar, bahwa selama ini kita terlalu keras sama diri sendiri.
Menuntut diri untuk selalu dewasa. Selalu kuat. Selalu tahan banting.
Padahal di dalam hati, ada sisi kecil yang masih ingin dimengerti.
Masih pengen main.
Masih pengen tertawa tanpa mikir omongan orang.
Dan mimpi tentang taman bermain adalah jeritan kecil dari sisi itu.
Dia bilang,
“Boleh gak sih… lu santai sebentar?”
“Boleh gak sih… kita ketawa tanpa harus merasa bersalah?”
“Boleh gak sih… lu peluk diri sendiri, tanpa harus jadi ‘produktif’ dulu?”
Karena kadang kita lupa, jadi dewasa tuh bukan berarti harus ninggalin semua sisi kekanak-kanakan.
Tapi justru gimana caranya merangkul bagian itu, dan bikin dia tetap hidup… meski dunia udah berubah.
Ada juga orang yang mimpi main di taman bermain… bareng orang-orang tertentu.
Mungkin sahabat lamanya.
Mungkin orang tuanya.
Atau bahkan seseorang yang udah gak ada.
Nah, ini lebih dalam lagi.
Bisa jadi itu bukan cuma sekadar mimpi main-main. Tapi cara alam bawah sadar kita menyampaikan rindu.
Rindu yang mungkin gak bisa kita ungkapkan di dunia nyata.
Yang gak kita tulis di status, gak kita sampaikan lewat pesan.
Tapi malam hari, saat semua suara hening, rindu itu menyelinap diam-diam lewat mimpi.
Membawa kita ke taman bermain, tempat semua terasa lebih ringan.
Karena kadang… hanya lewat mimpi, kita bisa ketemu lagi dengan orang-orang yang udah lama pergi.
Atau ketemu lagi sama diri kita yang dulu.
Tapi tentu aja, gak semua mimpi punya makna dalam.
Kadang, ya… otak kita cuma lagi ngacak memori lama, dan kebetulan aja muncul gambaran taman bermain.
Tapi even that, menurut gue, tetap menarik.
Karena dari sekian banyak kemungkinan, kenapa harus taman? Kenapa bukan kantor? Kenapa bukan rumah?
Kenapa harus taman yang penuh tawa?
Itu tandanya… ada sisi dalam diri kita yang masih menyimpan kenangan baik di sana.
Tempat di mana kita merasa aman.
Tempat di mana dunia terasa masuk akal, meskipun jungkat-jungkitnya suka miring sebelah.
Dan ya, mimpi kadang bukan soal ramalan atau kode semesta.
Tapi lebih kayak cermin.
Yang nunjukin ke kita, apa yang selama ini kita pendam.
Apa yang gak sempat kita sadari di tengah kesibukan.
Jadi, kalau suatu hari kamu mimpi main ayunan…
Coba tanya pelan ke hati sendiri:
“Lagi pengen istirahat ya?”
“Lagi pengen bahagia tanpa syarat ya?”
“Atau… lagi rindu sama sesuatu yang gak bisa diulang?”
Karena bisa jadi, mimpi itu bukan cuma main-main.
Tapi undangan untuk pulang.
Ke versi diri yang lebih utuh. Lebih jujur. Dan lebih bebas.
Akhir kata, jangan buru-buru anggap mimpi itu hal sepele.
Karena bisa jadi, di balik perosotan yang tinggi dan jungkat-jungkit yang bunyinya berdecit…
ada pesan yang lembut,
yang cuma bisa kita denger kalau kita berhenti sejenak,
dan mau mendengarkan hati kita sendiri.
Dan siapa tahu…
di taman bermain itu, kita gak cuma sedang bermimpi,
tapi juga sedang menyembuhkan diri.
Pelan-pelan.
Tapi pasti.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar