Apa Arti Mimpi Berada di Pasar Ramai?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
- visibility 78
- comment 0 komentar

Pernah gak kamu kebangun tengah malam, lalu mikir,
“Eh, barusan gue mimpi lagi di pasar… rame banget… tapi kenapa ya kerasa aneh?”
Mungkin kamu gak inget detilnya. Cuma ingat hiruk pikuk, orang-orang lalu lalang, suara tawar-menawar, dan entah kenapa… kamu merasa sendirian di tengah keramaian.
Lucu ya?
Kadang mimpi tuh bukan cuma sekadar bunga tidur, tapi semacam cermin kecil yang nunjukin sisi diri kita yang bahkan gak kita sadari waktu bangun. Dan mimpi berada di pasar ramai bisa jadi salah satu mimpi yang lebih dalam maknanya dari yang kelihatan.
Coba deh bayangin:
Pasar itu tempat di mana banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan.
Ada yang lagi sibuk cari bahan masakan buat keluarganya, ada yang dagang dari subuh demi bayar sekolah anak, ada yang cuma lewat, ada yang ngamen, ada yang iseng jalan-jalan, bahkan ada yang lagi patah hati tapi tetap ikut keramaian biar gak kerasa sepi.
Nah, kalau kamu mimpi berada di tempat kayak gitu, bisa jadi itu bukan sekadar mimpi.
Mungkin…
Itu cara alam bawah sadar kamu nunjukin sesuatu.
Bahwa kamu lagi ada di fase hidup yang rame.
Bukan rame secara fisik, tapi rame di kepala.
Rame pikiran, rame pilihan, rame ekspektasi, rame suara orang lain.
Kamu ngerasa kayak lagi dikelilingi banyak hal, tapi justru di situlah kamu ngerasa sendirian.
Iya, kadang kesendirian itu gak datang pas kita lagi sendiri.
Tapi justru pas kita lagi ada di tengah banyak orang… tapi gak ada yang benar-benar ngerti isi hati kita.
Dan mimpi itu mungkin muncul bukan untuk bikin kamu bingung, tapi biar kamu pelan-pelan sadar:
“Eh, gue perlu dengerin diri gue sendiri lagi deh.”
Mungkin kamu lagi terlalu sibuk nyari validasi.
Terlalu fokus nyenengin semua orang.
Terlalu takut bilang “enggak”.
Terlalu banyak buka telinga buat komentar orang, tapi gak pernah buka hati buat denger suara diri sendiri.
Padahal ya…
Pasar tuh tempat jual beli.
Tempat orang tukeran: barang ditukar uang, tenaga ditukar harapan, waktu ditukar hasil.
Dan kamu mungkin udah terlalu lama “jual diri” kamu demi kepuasan orang lain.

Sampai-sampai kamu lupa:
Kamu juga butuh beli sesuatu buat diri sendiri.
Bukan dalam arti material, tapi perhatian.
Waktu.
Pengakuan.
Self-love.
Coba ingat-ingat, kapan terakhir kamu jalan sendirian tanpa ngerasa bersalah?
Kapan terakhir kamu nolak ajakan orang karena kamu cuma pengen istirahat?
Kapan terakhir kamu diem dan bilang ke diri sendiri, “Lo capek ya? Gak apa-apa kok.”
Mimpi berada di pasar ramai bisa juga jadi simbol dari keputusan yang harus diambil.
Kamu ada di tengah banyak opsi, banyak peluang, tapi semua bikin kamu bingung.
Karena semuanya kedengeran menarik, tapi gak semuanya buat kamu.
Sama kayak di pasar.
Gak semua barang harus kamu beli.
Kadang justru yang terbaik itu yang gak paling nyolok, tapi paling sesuai sama kebutuhan kamu.
Dan ini juga bisa jadi teguran kecil.
Mungkin udah terlalu lama kamu ngikutin suara luar, sampai kamu lupa gimana suara hati sendiri.
Mimpi kayak gitu tuh bukan mimpi jelek.
Justru itu mimpi yang ngajak kamu refleksi.
Karena di dunia nyata pun, kita sering jadi bagian dari keramaian—tapi lupa jadi pendengar setia buat diri sendiri.
Kita sibuk banget dengerin podcast tentang “self growth”, sibuk banget baca buku motivasi, ikut webinar sana-sini… tapi gak pernah nanya,
“Sebenernya gue bahagia gak sih?”
Jadi, kalau kamu abis mimpi lagi di pasar yang rame, coba tarik napas… dan tanya diri kamu pelan-pelan:
Apakah akhir-akhir ini hidup gue terlalu bising?
Kalau iya, mungkin sekarang saatnya kamu cari sudut yang tenang.
Gak perlu keluar dari pasar sepenuhnya…
Cukup cari bangku di pojokan, duduk sebentar, dengerin hati sendiri, dan minum teh hangat dalam diam.
Karena kadang…
Jawaban yang kita cari bukan datang dari keramaian.
Tapi justru dari kesediaan kita untuk diam sejenak, di tengah segala hiruk pikuk.
Dan ingat…
Mimpi itu bukan ramalan.
Tapi kadang, dia lebih jujur dari realita.
Jadi kalau kamu bermimpi berada di pasar yang ramai, jangan langsung takut atau bingung.
Mungkin itu tanda dari semesta, bahwa kamu udah cukup jadi bagian dari keramaian.
Sekarang waktunya kamu jadi pusat dari ruang kecilmu sendiri.
Tempat di mana suara orang lain dikecilin, dan suara hatimu dibesarin.
Bukan supaya kamu jadi egois.
Tapi supaya kamu ingat:
Hidup ini bukan tentang seberapa banyak kamu bisa memenuhi harapan orang lain…
Tapi tentang seberapa tulus kamu bisa memenuhi kebutuhan dirimu sendiri.
Dan kadang, mimpi yang keliatannya sepele,
itu cuma cara lembut semesta buat bilang:
“Eh, waktunya dengerin diri sendiri dulu, ya.”
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar