Kenapa Saya Mimpi Melihat Api Besar?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
- visibility 68
- comment 0 komentar

Pernah gak sih kamu tidur, terus mimpi lihat api gede banget? Bukan api unggun biasa, bukan juga lilin kecil di meja makan. Tapi beneran api. Besar, membara, mungkin bahkan sampai terasa panasnya meski cuma mimpi.
Terus kamu bangun, jantung masih deg-degan, keringat dingin nempel di leher. Lalu pikiranmu mulai berkelana:
“Ini pertanda apa ya? Kenapa harus api? Kenapa bukan pelangi atau bunga atau… kucing lucu aja gitu?”
Kadang-kadang, kita terlalu cepat menganggap mimpi itu pertanda buruk. Api gede = bencana. Titik.
Tapi pernah gak coba berpikir dengan sudut pandang lain?
Bisa jadi, mimpi itu bukan soal kehancuran. Bisa jadi, itu tentang perubahan.
Api, dalam banyak budaya, adalah simbol transformasi.
Api membakar, iya. Tapi setelah membakar, dia membersihkan. Dia membuka ruang baru.
Pohon-pohon di hutan kadang butuh terbakar supaya bibit-bibit baru bisa tumbuh.
Jadi mungkin…
mimpi melihat api besar bukan tentang “hidup lo bakal berantakan”.
Tapi lebih kayak,
“Hey, ada sesuatu di hidup lo yang perlu dirombak biar lo bisa tumbuh lebih baik.”
Mungkin kamu lagi ada di fase hidup di mana sesuatu terasa berat.
Entah itu kerjaan yang ngebosenin, hubungan yang melelahkan, atau bahkan ekspektasi orang lain yang makin hari makin ngerongrong.
Tanpa sadar, dalam hati kecilmu, kamu pengen semuanya ‘dibersihkan’.
Dibakar habis.
Dihapus.
Biar kamu bisa mulai lagi, dari nol, tapi dengan hati yang lebih ringan.
Makanya muncullah api itu di mimpi.
Bukan buat nakut-nakutin.
Tapi buat ngasih sinyal:
“Udah cukup capek-capeknya. Sekarang saatnya mulai dari baru.”

Tapi…
ya gak semua api itu soal motivasi mulia dan perubahan penuh harapan.
Kadang juga, api itu bisa cerminan emosi kita yang selama ini dipendam.
Marah, sakit hati, rasa kecewa yang numpuk kayak tumpukan kayu kering—tinggal nunggu satu percikan kecil aja buat kebakar semuanya.
Pernah ngerasa kayak gitu?
Di luar, kamu senyum. Bercanda.
Tapi di dalam, ada bara yang kamu tahan mati-matian.
Mungkin karena kamu takut kelihatan lemah.
Atau karena kamu gak mau ribut.
Atau kamu merasa, “Ngapain juga, nanti juga lewat.”
Tapi emosi gak pernah benar-benar “lewat”.
Dia numpuk.
Dia cari jalan keluar.
Dan kadang, jalan keluarnya ya lewat mimpi.
Lewat gambaran api besar itu, alam bawah sadar kita kayak mau bilang:
“Hey, acknowledge dong rasa sakit itu. Jangan pura-pura gak ada.”
Jadi, mimpi lihat api besar itu bukan sekadar horror random tengah malam.
Bisa jadi itu pesan dari diri kamu sendiri.
Bahwa ada hal yang perlu kamu relakan.
Ada luka yang perlu kamu akui.
Ada marah yang perlu kamu terima, bukan terus-terusan kamu bungkam.
Dan satu hal lagi yang penting diingat:
Tidak semua yang terbakar itu buruk.
Kadang kita butuh kehilangan sesuatu untuk dapet sesuatu yang lebih baik.
Sama kayak kalau kita bersih-bersih rumah.
Kalau gak tega buang barang-barang yang udah usang, kamar kita gak akan pernah lega.
Kalau gak berani buang baju-baju yang udah gak muat, lemari kita gak akan pernah siap buat baju baru.
Sakit?
Iya.
Tapi kadang memang kita harus rela melihat ‘kebakaran kecil’ dalam hidup kita, supaya bisa membangun sesuatu yang lebih kuat dari abu-abu itu.
Tapi tentu saja, interpretasi mimpi itu personal banget.
Gak ada satu jawaban mutlak yang berlaku buat semua orang.
Karena cuma kamu yang tahu, lagi ada apa dalam hidupmu.
Lagi berjuang dengan apa.
Lagi nahan apa.
Jadi kalau kamu habis mimpi lihat api besar, mungkin pertanyaan terbaik bukan “Apa artinya?”,
tapi “Bagian mana dari hidup gue yang butuh perubahan?”
Apakah ada sesuatu yang harus gue lepaskan?
Apakah ada rasa marah yang udah kelamaan gue pendam?
Atau justru…
apakah ini saatnya buat berani mulai sesuatu yang baru?
Karena pada akhirnya, mimpi itu bukan tentang menakut-nakuti.
Mimpi itu kadang cuma cermin.
Yang ngasih lihat ke kita:
“Ini loh, isi hati lo yang sebenarnya.”
Dan tugas kita?
Bukan panik.
Bukan cari-cari arti aneh-aneh di Google jam tiga pagi.
Tugas kita cuma satu:
Dengar.
Dan pelan-pelan, berani berubah.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar