Apa Makna Mimpi Naik Kapal Besar?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
- visibility 76
- comment 0 komentar

Pernah gak, tengah malam, di antara lelap dan setengah sadar, kita mimpi lagi naik kapal besar?
Bukan sekadar kapal kecil di danau… tapi kapal megah, mengarungi samudra luas. Angin menerpa wajah, suara ombak mengiringi perjalanan. Rasanya nyata banget, sampai pas bangun, kita masih bisa ngerasain semilir anginnya.
Kalau dipikir-pikir, kenapa sih otak kita ngasih “tontonan” kayak gitu? Apa cuma random? Atau sebenernya ada sesuatu yang mau dikasih tau?
Kadang, kita terlalu sibuk sama rutinitas sampai lupa bahwa mimpi itu sering kali cara alam bawah sadar kita ngobrol. Diam-diam, dia ngirim sinyal. Bukan dalam bentuk suara keras, tapi lewat simbol.
Dan kapal besar?
Itu bukan simbol sembarangan.
Kapal gede dalam mimpi itu kayak metafora kehidupan.
Kayak… perjalanan panjang yang lagi (atau akan) kita tempuh.
Kapal besar itu gambaran betapa hidup kita gak lagi di kolam kecil, tapi udah masuk ke samudra luas yang penuh tantangan, ombak, badai, tapi juga pemandangan indah yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Mungkin tanpa sadar, mimpi itu mau bilang:
“Kamu sudah siap. Perjalanan besar ini dimulai.”
Tapi, kayak biasa, semua tergantung niat dan sudut pandang.
Karena kapal besar juga bisa berarti macem-macem.
Ada yang naik kapal besar dalam mimpi karena dia lagi siap menuju sesuatu yang lebih besar: karier baru, hubungan yang serius, atau keputusan hidup yang mengubah arah.
Ada juga yang mimpi naik kapal besar justru karena dia lagi merasa terombang-ambing. Kayak, “Gue di kapal segede ini, tapi kemudinya bukan di tangan gue.”
Alias, hidup berjalan… tapi dia ngerasa gak punya kendali penuh.

Beda orang, beda makna.
Dan kita, yang cuma tahu cerita permukaan orang lain, gak akan pernah bener-bener ngerti kenapa mereka mimpi kayak begitu.
Sama kayak kita gak bisa langsung nge-judge kenapa ada orang yang tiba-tiba resign dari kerjaan mapan, padahal gajinya enak, posisinya keren.
Mungkin di dalam hatinya, dia lagi denger suara kecil itu:
“Ini saatnya berlayar ke samudra lain.”
Mimpi naik kapal besar juga bisa berbicara soal beban.
Karena kapal besar itu berat.
Dia gak bergerak secepat speedboat.
Gerakannya lambat, perlu waktu buat belok, butuh ketenangan buat mengendalikan.
Mungkin mimpi itu muncul saat kita lagi banyak tanggung jawab.
Beban kerja, keluarga, ekspektasi orang-orang… semua ditumpuk.
Kita bawa semua itu, kayak nahkoda yang bawa kapal raksasa sendirian.
Capek? Iya.
Tapi dalam capek itu juga ada kebanggaan:
“Gue kuat. Gue bisa.”
Karena gak semua orang dikasih kapal besar.
Banyak yang cuma cukup ngendarain perahu kecil—dan itu gak salah.
Tapi kalau semesta ngasih kita kapal besar, mungkin itu karena Dia percaya kita bisa menahkodainya.
Ada satu lagi makna yang kadang kelewat kita sadari:
naik kapal besar itu bukan cuma soal kita.
Tapi juga soal siapa aja yang ada di atas kapal itu.
Mungkin ada keluarga, sahabat, rekan kerja, orang-orang yang percaya sama kita.
Orang-orang yang ikut berlayar bareng.
Yang kalau kapalnya goyang, mereka juga goyang.
Kalau kapalnya tenggelam, mereka juga tenggelam.
Mimpi itu mungkin mau ngingetin:
“Ini bukan cuma tentang kamu. Ini tentang kita.”
Karena kadang, dalam perjalanan besar, kita bukan cuma bawa diri sendiri.
Kita juga bawa kepercayaan, harapan, dan doa banyak orang yang udah bertaruh untuk ikut naik kapal ini.
Dan di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang harus kita tanya ke diri sendiri:
“Apakah aku sudah siap jadi nahkoda?”
Bukan cuma siap berlayar pas lautnya tenang.
Tapi siap juga berdiri kokoh saat badai datang.
Siap menenangkan yang panik.
Siap mencari arah waktu kompas hilang.
Karena mimpi naik kapal besar, kalau dipikirin dalam-dalam, itu bukan soal gaya-gayaan naik yacht mewah.
Bukan tentang flexing hidup di atas kapal keren.
Tapi tentang perjalanan, tanggung jawab, dan keberanian untuk tetap berdiri di tengah samudra yang kadang menakutkan.
Dan mungkin…
mimpi itu, di malam itu, mau bilang dengan lembut ke kita:
“Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar