Apa Arti Mimpi Melihat Bayi Menangis?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 22 Apr 2025
- visibility 74
- comment 0 komentar

Pernah gak sih, bangun tidur dengan perasaan aneh karena mimpi semalam? Bukan mimpi yang bikin takut atau senang, tapi lebih ke bingung. Kayak… kenapa tiba-tiba aku mimpi lihat bayi menangis ya?
Awalnya kita mikir, “Ah, paling karena sore kemarin lihat postingan bayi lucu nangis di Instagram.” Tapi kok ya rasanya lebih dalam dari itu. Ada suasana yang nempel. Seolah mimpi itu pengen nyampein sesuatu.
Mimpi melihat bayi menangis tuh sering dianggap pertanda buruk. Tapi… apakah selalu begitu? Apakah semua mimpi itu harus dimaknai hitam putih: baik atau buruk? Atau mungkin… kita bisa coba lihat dari sisi yang lain?
Kadang hidup ngasih kita mimpi bukan untuk ditakuti, tapi untuk direnungkan.
Tangisan bayi, misalnya. Di dunia nyata, suara itu bisa bikin kepala pening. Tapi coba bayangin lagi, bukankah tangisan itu sebenarnya adalah bentuk komunikasi pertama manusia? Cara paling jujur untuk bilang, “Aku butuh sesuatu.” Bisa butuh kenyamanan, kehangatan, perhatian, atau sekadar pelukan.
Bayi gak bisa basa-basi. Gak bisa bilang “aku baik-baik aja” padahal dia lapar. Dia cuma tahu satu hal: nangis. Dan justru karena itu… jujur banget.
Nah, balik lagi ke mimpi tadi.
Bisa jadi, mimpi melihat bayi menangis itu bukan tentang “bayinya”. Tapi tentang “kita”.
Tentang bagian dari diri kita yang selama ini kita abaikan. Bagian yang sedang menangis dalam diam, tapi gak kita pedulikan karena kita sibuk jadi dewasa. Sibuk kuat. Sibuk terlihat baik-baik saja.
Kita terlalu sering menenangkan orang lain, sampai lupa bertanya: “Gue sendiri sebenernya gimana sih?”
Pernah gak ngerasa capek tapi gak ngerti kenapa? Atau tiba-tiba sedih di tengah tumpukan pekerjaan yang harusnya bikin kita merasa produktif? Bisa jadi itu inner child kita, bagian terdalam dari jiwa yang pengen dipeluk. Yang udah lama nangis, tapi gak kita dengar karena kita sibuk mengejar “harusnya”.

Dan mimpi? Kadang dia adalah satu-satunya cara alam bawah sadar kita bicara.
Melalui tangisan bayi, mungkin ada luka lama yang minta dilihat. Ada perasaan yang tertahan dan pengen diberi ruang. Mungkin ada keputusan yang kita buat dengan tergesa, tanpa sempat tanya ke hati kecil kita, “Kamu beneran siap gak sih?”
Atau mungkin, itu bentuk peringatan halus. Supaya kita berhenti sebentar. Dengerin lagi suara hati yang udah lama gak kita dengar.
Karena manusia itu kompleks. Kita gak cuma butuh makan dan tidur. Tapi juga pengakuan. Pelukan. Rasa dimengerti. Dan kadang… kita terlalu sibuk mengejar validasi dari luar, sampai lupa memastikan hati kita sendiri masih baik-baik saja atau enggak.
Bayi itu simbol. Dia bisa jadi lambang awal yang baru. Ide yang masih rapuh tapi punya potensi besar. Cita-cita lama yang belum kita wujudkan. Atau harapan kecil yang dulu kita punya, tapi pelan-pelan kita tinggalkan karena dunia dewasa bilang: “Itu gak realistis.”
Tangisan dalam mimpi itu mungkin adalah suara hati yang bilang,
“Jangan tinggalkan aku. Aku masih ada, dan aku masih percaya sama kamu.”
Kita sering merasa gagal hanya karena kita gak sesuai timeline orang lain. Tapi siapa sih yang buat timeline itu? Kenapa kita harus kejar standar yang bahkan gak kita pilih sendiri?
Mimpi melihat bayi menangis bisa juga jadi ajakan lembut untuk kembali ke diri sendiri. Buat ngingetin bahwa kita punya bagian dalam yang gak minta banyak. Cuma pengen dimengerti.
Kadang, dalam mimpi sesederhana itu, kita bisa menemukan kebenaran yang gak pernah kita temukan dalam kesibukan sehari-hari.
Dan ya, gak semua hal harus ditafsirkan secara kaku. Bisa jadi, mimpi itu cuma cermin dari perasaan yang kita pendam. Tapi bisa juga jadi pintu masuk ke obrolan paling jujur dengan diri sendiri.
Obrolan yang udah lama tertunda.
Jadi lain kali kamu mimpi lihat bayi menangis, jangan buru-buru takut. Jangan juga langsung buka primbon dan cari makna buruknya. Coba duduk sebentar. Tarik napas. Dan tanya ke diri sendiri:
“Ada bagian dari aku yang lagi menangis dan butuh aku peluk?”
Karena mungkin… bukan mimpinya yang harus dimaknai. Tapi rasa yang ditinggalkannya. Dan bagaimana rasa itu ngajak kita untuk lebih jujur. Lebih lembut. Sama diri sendiri.
Akhir kata, dunia ini udah cukup bising. Kalau kamu punya suara hati yang lembut, jangan kamu matikan. Karena justru dari situlah arah hidup yang sebenarnya bisa kamu temukan.
Dan jangan remehkan suara tangisan dalam mimpi.
Kadang, itu satu-satunya bentuk komunikasi yang tersisa dari bagian jiwa kita… yang udah terlalu lama pengen dipeluk.
Kalau kamu bermimpi, jangan cuma cari artinya. Tapi dengarkan juga pesan yang mau disampaikan. Karena hidup ini, kadang gak butuh tafsir. Cuma butuh kejujuran.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar