Apakah facial foam boleh dipakai setiap hari?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
- visibility 98
- comment 0 komentar

Pernah gak sih kamu bangun pagi, liat kaca, dan ngerasa wajahmu kayak layar HP habis dipakai gorengan—berminyak, kusam, dan kayak teriak minta tolong? Refleks, kamu langsung lari ke wastafel, ambil facial foam, dan busain dengan harapan semua masalah hidup juga ikut luruh bareng sabunnya.
Tapi pernah gak kamu mikir… facial foam itu sebenarnya boleh gak sih dipakai tiap hari? Atau malah selama ini kita cuma nurutin rutinitas yang katanya “wajib”, padahal belum tentu cocok buat semua orang?
Ini kayak pertanyaan tentang kopi: minum tiap hari boleh gak? Jawabannya tergantung. Tergantung kondisi badan, tujuan, dan seberapa kenal kita sama diri sendiri.
Sama halnya dengan facial foam.
Facial foam itu kayak teman yang suka bantuin kamu move on.
Dia bersihin semua sisa-sisa—debu, kotoran, minyak, bahkan dosa-dosa skincare semalam. Tapi… kalau terlalu sering, bisa-bisa bukan bantu move on, tapi malah nyakitin pelan-pelan.
Kenapa? Karena gak semua facial foam itu lembut dan sayang kulit.
Banyak di antaranya mengandung bahan yang terlalu keras buat dipakai tiap hari. Kayak Sodium Lauryl Sulfate (SLS) atau alkohol berlebih—yang awalnya bikin wajah terasa kesat dan bersih, tapi ternyata malah ngerusak skin barrier.
Dan kamu tau gak sih? Skin barrier itu ibarat pagar rumah.
Kalau dia kuat, semua gangguan dari luar gak bisa masuk. Tapi kalau bolong, ya siap-siap aja jerawat, iritasi, dan kekeringan dateng kayak mantan yang gak tau diri—gangguin hidup pas kamu lagi tenang-tenangnya.
Sekarang mari kita lihat dari sisi niat.
Kenapa sih kamu pake facial foam tiap hari?
Karena ingin bersih? Ingin glowing? Atau takut dibilang jorok?

Kalau kamu pakenya karena sayang sama diri sendiri—karena pengen rawat wajah dengan lembut dan konsisten—itu niat yang bagus.
Tapi kalau pakenya karena overthinking:
“Kalau gak cuci muka dua kali sehari nanti jerawatan dong…”
“Kalau kulit gak kesat, berarti gak bersih…”
Nah, itu yang perlu dipikir ulang.
Karena kulit kita, kayak hati, juga butuh istirahat.
Dia gak harus “bersih kinclong” tiap waktu. Kadang cukup dengan jadi seimbang aja. Lembap. Gak kering. Gak terlalu berminyak. Dan yang paling penting: nyaman.
Ada juga yang ngerasa gak afdol kalau belum facial foam pagi dan malam.
Rasanya kayak belum salat subuh.
Tapi coba tanya ke kulit kamu, bukan ke kebiasaanmu:
“Lo beneran butuh, atau ini cuma karena rutinitas?”
Kadang kita tuh terlalu kaku sama aturan yang katanya “harus begini”, “wajib begitu”, tanpa sadar bahwa tubuh dan kulit kita tuh dinamis. Mereka berubah. Dan mereka bisa ngasih sinyal kalau udah gak cocok.
Kulit kering, merah, ngelupas?
Mungkin dia udah lelah dibersihin terus.
Lalu, solusi paling netral gimana?
Facial foam boleh kok dipakai setiap hari—asal kamu tau jenis kulitmu, pilih produk yang tepat, dan dengerin sinyal dari wajahmu.
Kalau kulitmu cenderung berminyak dan sering terpapar polusi, pakai facial foam 2x sehari mungkin membantu.
Tapi kalau kulitmu kering, sensitif, atau mudah iritasi, cukup sekali aja. Sisanya bisa pakai pembersih yang lebih lembut, atau bahkan cukup dengan air hangat.
Karena kadang yang dibutuhin kulit bukan sabun, tapi pengertian.
Bukan foam yang banyak busanya, tapi perhatian yang lembut.
Dan lagi… jangan terlalu dengerin iklan.
Yang katanya “wajah harus selalu kesat”, “pori-pori harus menghilang”, “kulit harus putih kayak kertas HVS”.
Kita bukan mesin fotokopi.
Wajah manusia tuh berpori. Punya minyak alami. Ada teksturnya.
Itu bukan kekurangan. Itu normal.
Jadi, apakah facial foam boleh dipakai setiap hari?
Boleh. Tapi bukan berarti harus.
Boleh, asal kamu tahu kenapa kamu pakai.
Boleh, asal kamu tahu kapan harus berhenti.
Karena merawat wajah itu bukan soal seberapa sering kamu mencuci,
tapi seberapa dalam kamu memahami apa yang wajahmu butuhkan.
Dan kadang, merawat itu bukan dengan banyak-banyak produk,
tapi cukup dengan satu hal: niat yang tulus.
Jadi sebelum kamu busain sabun itu lagi malam ini, coba tanya ke kaca: “Apa aku lagi nyayangin kulitku? Atau cuma ngejar rasa bersih yang semu?”
Karena seperti halnya dalam hidup,
yang tampak bersih di luar… belum tentu sehat di dalam.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar