Apakah Boleh Cuci Muka 3 Kali Sehari untuk Kulit Berminyak?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
- visibility 105
- comment 0 komentar

Pernah gak sih nanya ke diri sendiri,
“Gue ini cuci muka udah bener belum, ya?”
Apalagi buat yang punya kulit berminyak, rasa-rasanya pengen banget tiap satu jam sekali tuh cuci muka.
Minyak muncul lagi, cuci lagi. Baru aja selesai salat, eh udah kilang minyak lagi di jidat.
Akhirnya ada yang mutusin buat cuci muka 3 kali sehari.
Pagi. Siang. Malam.
Ada yang ngerasa itu jadi semacam rutinitas suci. Tapi ada juga yang mulai nanya:
“Eh, ini sebenernya aman gak sih?”
Tapi… pernah gak coba lihat ini dari perspektif yang beda?
Gimana kalau ternyata…
sering cuci muka itu bukan cuma soal ingin bersih,
tapi soal ingin merasa “baik-baik saja”?
Coba ingat-ingat lagi, kapan pertama kali kita mulai aware sama kulit wajah?
Bukan waktu masih kecil. Dulu mah asal cuci pakai sabun batang yang sama buat badan dan muka, cuek bebek.
Tapi makin gede, makin banyak tuntutan. Makin sering ngaca.
Dan makin sadar, “Kok muka gue minyakan banget sih?”
Apalagi kalau udah mulai jerawatan.
Di situ muncul dorongan: pengen bersih. Pengen mulus. Pengen ‘rapih’ kayak wajah orang-orang di iklan skincare.
Makanya, kita jadi rajin. Atau lebih tepatnya… gelisah.
Dan dari gelisah itu, lahirlah kebiasaan:
cuci muka terus, biar gak kelihatan kusam.
Tapi… pernah gak ngerasa, makin dicuci, malah makin parah?

Soalnya kulit kita tuh bukan papan whiteboard yang makin sering diseka jadi makin bersih.
Kulit itu hidup.
Dia punya mekanisme pertahanan sendiri.
Saat kamu bersihin terus-terusan, dia malah panik.
Minyaknya diambil? Dia produksi lagi.
Lalu kita cuci lagi. Dia produksi lagi.
Akhirnya… ya gitu-gitu aja.
Kulit bukannya nurut, malah makin keras kepala.
Dan ironisnya, kita makin marah ke diri sendiri.
“Kenapa sih muka gue gak pernah bisa kinclong?”
Padahal, mungkin dia cuma lagi kelelahan.
Tapi bukan berarti cuci muka 3 kali sehari itu salah, ya.
Ada kalanya memang dibutuhkan.
Misalnya, kamu habis aktivitas berat di luar ruangan, atau pakai makeup tebal, atau keringatan seharian.
Kulit perlu dibersihkan.
Tapi… kuncinya bukan di “berapa kali”.
Melainkan: kenapa kamu melakukannya?
Karena niat itu penting.
Cuci muka karena sayang sama kulit, beda auranya sama cuci muka karena benci sama minyak.
Yang satu penuh perhatian.
Yang satu penuh tuntutan.
Sama kayak kamu ngasih hadiah ke orang.
Kalau kamu kasih karena pengen bikin dia senang, maka sekecil apapun hadiahnya, rasanya hangat.
Tapi kalau kamu kasih hadiah karena takut dianggap gak perhatian, atau biar gak kalah sama temen yang lain, maka sebanyak apapun hadiahnya, rasanya kosong.
Kulit juga begitu.
Dia bisa ‘merasakan’ energi dari tanganmu.
Saat kamu bersihin dengan penuh kesadaran, dengan produk yang lembut dan cocok, dia akan merespons baik.
Tapi kalau kamu gosok karena kesel, pakai sabun keras karena pengen hasil instan, dia akan melawan.
Lalu, apakah salah cuci muka 3 kali sehari?
Gak salah. Tapi tanyakan dulu:
“Apakah ini benar-benar karena kebutuhan kulitku… atau karena aku gak nyaman melihat diriku sendiri dalam kondisi apa adanya?”
Karena kadang, bukan kulitmu yang bermasalah.
Tapi ekspektasimu.
Yang pengen kulit selalu matte, selalu halus, selalu glowing 24 jam tanpa celah.
Padahal manusia biasa ya pasti punya pori-pori. Pasti berminyak. Pasti bertekstur.
Itu bukan cacat. Itu ciri kehidupan.
Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri.
Kita pikir, semakin sering kita bersihin, semakin kita kontrol, maka semakin baik hasilnya.
Padahal kulit bukan musuh.
Dia bukan sesuatu yang harus “diatur terus” supaya gak memalukan.
Kulit adalah bagian dari kita.
Dia hanya ingin didengar. Dikenali. Diterima.
Jadi, kalau kamu merasa perlu cuci muka tiga kali, lakukan dengan lembut.
Gunakan sabun yang tidak mengandung SLS atau bahan keras lainnya.
Perhatikan apakah kulitmu terasa ketarik setelahnya.
Kalau iya, mungkin itu sinyal:
“Gue butuh istirahat.”
Dan kalau hari itu kamu cuma cuci muka dua kali, gak apa-apa juga.
Bukan berarti kamu jorok.
Tapi kamu sedang belajar mengenali ritme tubuhmu.
Akhir kata, pertanyaan “boleh gak sih cuci muka 3 kali sehari?”
seharusnya bukan dijawab dengan “iya” atau “tidak”.
Tapi dengan pertanyaan balik:
“Apakah aku melakukannya karena aku benar-benar peduli… atau karena aku sedang dihantui standar yang bukan milikku?”
Karena kalau kamu mencuci muka karena cinta, bukan karena cemas,
maka berapapun jumlahnya… kulitmu akan merasakannya.
Dan kadang, cinta yang lembut jauh lebih menyembuhkan daripada rutinitas yang keras kepala.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar