Apa yang Membuat Wajah Kusam?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Minggu, 13 Apr 2025
- visibility 69
- comment 0 komentar

Pernah nggak sih, pas ngaca pagi-pagi, kamu ngerasa ada yang aneh?
Kayak… kok wajah gue gak kayak biasanya ya? Kusam. Pucat. Gak ada “spark”-nya.
Padahal tidur cukup. Skincare nggak bolong. Makan juga nggak asal. Tapi tetap aja muka kayak habis dibawa muter-muter naik angkot siang bolong.
Bingung gak tuh?
Kita sering mikir penyebab wajah kusam tuh cuma soal teknis: kurang air putih, lupa sunscreen, atau krim malam yang lagi kehabisan. Tapi jarang banget kita nanya hal yang lebih dalam:
“Sebenernya… apa yang sedang gue rasain akhir-akhir ini?”
Karena kadang, wajah kusam itu bukan karena kita kurang eksfoliasi,
tapi karena kita terlalu sering memendam.
Bukan karena kulit kita kotor, tapi karena hati kita yang terlalu banyak beban.
Gini deh, coba inget-inget lagi…
Kapan terakhir kali kamu ngerasa hidupmu tenang?
Yang beneran tenang, bukan cuma karena libur kerja atau saldo rekening lagi aman.
Tapi tenang yang datang dari dalam. Yang bikin kamu bangun pagi dan ngerasa,
“Apa pun yang terjadi hari ini, gue siap.”
Sekarang bandingin sama hari-hari di mana kamu bangun dengan rasa berat.
Bukan karena kurang tidur, tapi karena kepala udah penuh sejak buka mata.
Entah masalah kerjaan yang gak kelar-kelar,
hubungan yang makin hari makin ngambang,
atau cuma sekadar… rasa sepi yang gak kamu ngerti datangnya dari mana.
Dan anehnya, di hari-hari kayak gitu,
wajah kita pun ikut menunjukkan sinyal:
mata sembab, kulit terlihat redup, senyum pun terasa dipaksakan.
Kusamnya bukan cuma di luar, tapi dari dalam.
Tapi ya… wajar kok.
Kita manusia.
Kita bisa banget keliatan glowing luar biasa di luar, tapi di dalam berantakan.
Dan bisa juga sebaliknya: wajah kita terlihat lesu, padahal hati lagi belajar berdamai.
Makanya, sebelum buru-buru beli serum baru atau coba tren skincare terbaru di TikTok,
coba deh duduk sebentar dan jujur ke diri sendiri.
“Apa yang lagi gue rasain belakangan ini?”
“Apakah gue benar-benar bahagia?”
“Apakah gue ngasih waktu buat diri sendiri bernapas?”
Karena terkadang… wajah kusam itu cuma efek samping dari kita yang terlalu sibuk menjaga semuanya tetap terlihat baik, tapi lupa menjaga diri kita sendiri.
Tentu aja, bukan berarti faktor luar gak penting.
Ya jelas penting. Kulit butuh nutrisi, perlindungan, dan perawatan yang tepat.
Tapi kalau kita cuma fokus di permukaan,
itu kayak bersihin jendela yang kotor dari luar,
padahal debunya datang dari dalam rumah.

Coba deh pikirin lagi:
• Seberapa sering kamu tidur sambil overthinking?
• Seberapa sering kamu makan sambil scrolling berita buruk?
• Seberapa sering kamu bilang “iya” ke orang lain, padahal hati kamu pengen bilang “nggak”?
• Seberapa sering kamu memaafkan orang lain, tapi nggak pernah memaafkan diri sendiri?
Hal-hal kecil kayak gini, kalau ditumpuk tiap hari, lama-lama jadi beban.
Dan beban yang terlalu berat… bisa bikin wajah kita ikutan lelah.
Kadang kita iri liat orang yang mukanya selalu fresh, cerah, kayak gak punya masalah.
Tapi siapa tahu, mungkin bukan karena skincare-nya lebih mahal,
tapi karena dia lebih jago ngejaga pikirannya tetap bersih.
Bukan karena dia punya facial rutin,
tapi karena dia rutin berkata jujur ke dirinya sendiri:
“Aku capek, dan itu gak apa-apa.”
Kecantikan itu bukan cuma soal kulit yang mulus,
tapi juga tentang hati yang gak kotor karena iri,
pikiran yang gak keruh karena dendam,
dan napas yang masih bisa kita tarik pelan-pelan,
di tengah hidup yang sering terlalu cepat.
Jadi kalau hari ini kamu ngerasa wajahmu kusam,
jangan langsung nyalahin pelembap atau cuaca.
Coba tanya ke hati kecilmu:
“Apakah aku sudah cukup sayang sama diri sendiri?”
Karena kadang, wajah kita cuma cermin dari jiwa yang lelah.
Dan sebelum kita buru-buru memoles luarannya,
gak ada salahnya kita rawat dulu yang di dalam.
Akhir kata…
Wajah kusam itu bukan aib.
Bukan tanda kamu gak cantik.
Tapi mungkin, itu kode halus dari tubuhmu:
“Aku butuh dirangkul, bukan disalahkan.”
Jadi yuk, pelan-pelan kita belajar.
Bukan cuma belajar perawatan,
tapi juga belajar memahami diri sendiri.
Karena wajah yang bercahaya…
sering kali dimulai dari hati yang mulai menerima.
Dan itu, jauh lebih awet dari sekadar kilap di permukaan.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar