Apa Ciri-Ciri Sabun Cuci Muka Tidak Cocok?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
- visibility 85
- comment 0 komentar

Pernah gak sih, kita pakai sabun cuci muka yang katanya “bagus banget”—review di mana-mana bilang glowing lah, bebas jerawat lah, kulit kenyal lah. Tapi pas kita pakai… yang ada malah kulit makin rewel. Jerawat nongol rame-rame, kulit kering kerontang, atau malah jadi merah-merah kayak kepiting rebus.
Terus kita mikir, “Apa ini purging ya? Harus ditunggu dulu hasilnya?”
Padahal bisa jadi… sabunnya emang gak cocok.
Sama kayak hubungan. Gak semua yang awalnya terlihat manis, ujungnya bikin kita bahagia. Kadang justru yang keliatan paling menjanjikan, paling “wah”, bisa jadi yang paling nyakitin.
Dan di sinilah pentingnya kita ngerti sinyal. Baik sinyal dari orang… maupun dari kulit sendiri.
Kulit itu pintar, dia ngasih kode. Tinggal kitanya peka atau enggak.
Contoh kecil nih. Kalau habis cuci muka rasanya kulit kayak ditarik-tarik, kaku banget sampe senyum pun rasanya kayak habis facelift, itu bukan pertanda sabunnya bekerja dengan maksimal.
Itu tandanya: kelembapan alami kulit kita barusan disapu habis.
Karena kulit sehat itu bukan yang super kesat kayak keramik baru dipel. Tapi yang seimbang. Lembut, bersih, tapi tetap kenyal.
Terus, ada juga sabun yang habis dipakai bikin kulit jadi merah-merah. Ada yang bilang itu efek “deep cleansing”. Tapi… coba kita bayangin kalau ada orang bersihin kita sampe merah-merah, masih mau dibilang “dia niat, kok”? Atau kita bakal nanya: “ini bersih-bersih apa nyakitin sih?”
Nah, begitu juga dengan kulit. Merah, gatal, perih, atau terasa panas setelah pakai sabun itu bukan deep cleansing. Itu alarm.
Bentuk kecil dari penolakan yang sopan. Tapi tetap penolakan.
Lalu, gimana dengan jerawat? Ada sabun yang katanya bisa mengontrol jerawat, tapi tiap kali dipakai malah muncul jerawat baru di tempat yang sebelumnya aman-aman aja.
Ada kemungkinan itu purging, iya. Tapi ada juga kemungkinan itu breakout.
Bingung bedainnya?
Gini. Kalau jerawat muncul di area yang biasa memang berjerawat, bisa jadi purging. Tapi kalau munculnya di tempat-tempat yang gak biasa, kayak pipi yang biasanya mulus atau dahi yang selalu aman, itu red flag.
Dan satu hal lagi yang sering luput: tekstur kulit berubah.
Tiba-tiba muncul bintik-bintik kecil, kasar, gak rata—padahal sebelumnya enggak. Nah, itu juga bisa jadi tanda kulit lagi gak happy sama sabun kita.

Pertanyaannya: kita mau cuek, atau kita mau dengerin dia?
Karena dalam hidup, kadang kita terlalu fokus pada “sabun ini viral”, “ini katanya bagus”, “banyak yang cocok”—sampai kita lupa tanya ke kulit kita sendiri: “kamu nyaman gak sih?”
Padahal, setiap kulit itu punya cerita dan kebutuhan yang beda.
Sama kayak setiap orang punya latar belakang, luka, dan batasan masing-masing.
Jadi, daripada terus memaksakan sabun yang “katanya bagus” tapi bikin kulit kita teriak minta tolong, kenapa gak mulai dari mendengarkan dulu?
Mungkin jawabannya bukan ganti sabun yang lebih mahal, lebih wangi, atau lebih berbusa. Tapi sabun yang lebih lembut, lebih tulus, dan lebih mengerti.
Kadang, sabun terbaik itu bukan yang kelihatan “kerja keras”, tapi yang tahu batas. Yang membersihkan tanpa menghilangkan. Yang hadir tanpa menyakiti.
Sama seperti orang-orang yang benar-benar sayang, mereka gak bikin heboh. Tapi kita merasa tenang tiap kali mereka ada.
Dan kalau kamu udah nemu sabun yang kayak gitu—yang gak bikin drama, gak bikin bingung, gak bikin ngerasa kayak lagi uji nyali tiap kali cuci muka—pertahankan.
Karena sabun kayak gitu, sama kayak orang baik… susah dicari, gampang disia-siain.
Akhir kata, jangan takut untuk bilang “nggak cocok”.
Bukan karena kamu rewel, tapi karena kamu belajar menghargai kulitmu sendiri.
Dan itu bukan bentuk manja… tapi bentuk cinta.
Cinta ke diri sendiri.
Karena gak semua sabun yang bikin bersih itu baik.
Dan gak semua yang bikin kesat itu sehat.
Sama seperti gak semua yang keliatannya sayang itu beneran tulus.
Tinggal kita aja, mau terus ngikutin tren…
atau mau mulai dengerin yang paling jujur:
suara dari kulit kita sendiri.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar