Apakah Lebih Baik Mencuci Muka dengan Waslap atau Tangan?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
- visibility 81
- comment 0 komentar

Pernah gak sih kamu lagi cuci muka sambil ngaca, terus tiba-tiba mikir,
“Sebenernya, yang bener tuh pakai tangan aja atau butuh alat bantu kayak waslap?”
Pertanyaan yang terdengar sepele, tapi nyatanya diam-diam bikin galau.
Karena ya gitu…
Perawatan kulit tuh sekarang udah kayak relationship—semakin banyak pilihan, semakin bingung kita mau percaya sama siapa.
Ada yang bilang, “Waslap itu bagus buat ngangkat sel kulit mati, lho!”
Tapi ada juga yang bilang, “Eh, jangan. Itu bikin kulit iritasi kalau gak hati-hati.”
Terus ada lagi tim minimalis, “Cukup pakai tangan aja, asal tekniknya bener.”
Tapi…
Pernah gak kepikiran, bahwa mungkin, pertanyaannya bukan cuma tentang apa yang dipakai,
tapi bagaimana dan untuk apa kita melakukannya?
Mari kita mulai dari waslap.
Yes, si kain kecil yang katanya multifungsi itu.
Ada orang yang religius banget soal rutinitas skincare-nya.
Waslapnya punya warna khusus. Satu buat pagi, satu buat malam.
Dicuci tiap habis pakai, dijemur sampai kering, gak pernah dipakai dua kali.
Kenapa? Karena buat dia, ngerawat kulit bukan sekadar rutinitas…
tapi bentuk self-respect.
Dia percaya, wajahnya tuh kayak pintu depan rumah.
Kalau pintunya bersih, tamu pun betah.
Dan yang paling penting, dia sendiri ngerasa nyaman.
Tapi, gak semua orang punya waktu atau energi buat segitunya.
Ada juga yang lebih suka pakai tangan.
Sederhana, praktis, dan terasa lebih “personal.”
Gak ada alat bantu, cuma jari-jari sendiri yang dengan lembut menyapu wajah.
Mungkin dia bukan tipe yang ribet.
Tapi bukan berarti dia gak peduli.
Justru, dia percaya kalau sentuhan langsung itu punya efek yang beda.
Dia bisa lebih peka. Tau bagian mana yang lagi kering, bagian mana yang mulai muncul jerawat.
Dan yang terpenting, dia bisa lebih mindful.
Ngerasa hadir sepenuhnya saat membersihkan wajahnya sendiri.
Jadi sebenernya, bukan soal waslap atau tangan.
Tapi soal pendekatan kita ke diri sendiri.
Sama kayak orang yang pilih olahraga di gym lengkap dengan alat-alat mahal…
dan orang yang cukup jogging keliling komplek.
Tujuannya sama: sehat.
Caranya aja yang beda.
Yang satu merasa lebih termotivasi kalau suasananya niat dan proper.
Yang satu lagi merasa cukup dengan keringat dan udara segar pagi hari.
Begitu juga dengan cuci muka.
Mau pakai waslap, tangan, atau bahkan alat pembersih elektrik sekalipun—yang penting:
Apakah kita melakukannya dengan sadar?
Apakah kita tahu kenapa kita memilih cara itu?
Atau cuma karena ikut-ikutan tren yang katanya “lebih bagus”?
Kadang, kita juga suka nge-judge.
“Pakai waslap? Iya kali, niat amat kayak mau facial tiap hari.”
“Cuma pakai tangan doang? Ih, gak effort banget sih.”

Tapi coba deh tarik napas sebentar, dan pikirin ini:
Gimana kalau ternyata waslap itu adalah bentuk perhatian kecil yang dia bisa kasih buat dirinya di tengah kesibukan?
Atau gimana kalau pakai tangan itu cara dia tetap terhubung sama tubuhnya, setelah seharian merasa asing karena kerja nonstop?
Kita gak pernah benar-benar tahu kan?
Yang perlu diingat adalah:
Wajah kita itu bukan lap kaca mobil.
Bukan yang harus digosok kuat-kuat biar kinclong.
Kulit itu sensitif.
Punya perasaan (secara harfiah).
Kalau dia bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang,
“Gue gak butuh banyak alat kok, cukup disayang aja.”
Dan apapun alat yang kita pakai,
kalau niatnya cuma biar cepat-cepat bersih,
asal-usul alatnya gak jelas,
terus sering dipakai tanpa dicuci bersih,
ya tetap aja, hasilnya bisa zonk.
Waslap yang gak steril bisa jadi sarang bakteri.
Tangan yang kotor pun sama bahayanya.
Makanya, bukan soal alatnya.
Tapi gimana kita memperlakukan alat itu.
Dan gimana kita memperlakukan diri kita sendiri.
Akhirnya, kita balik ke pertanyaan awal:
Apakah lebih baik mencuci muka dengan waslap atau tangan?
Jawabannya mungkin sesimpel ini:
Pilih yang paling bisa kamu lakukan dengan konsisten dan penuh kesadaran.
Kalau waslap bikin kamu merasa lebih terurus,
pakailah. Tapi rawat juga waslapnya.
Kalau tangan bikin kamu lebih terkoneksi dengan diri,
maka cukupkanlah tanganmu jadi alat terbaik.
Yang penting, bukan tampilannya.
Tapi niatnya.
Karena perawatan terbaik itu bukan yang paling mahal atau paling ribet.
Tapi yang paling tulus.
Dan dalam hal mencintai diri sendiri,
hal kecil kayak cuci muka pun bisa jadi bentuk kasih sayang yang besar…
kalau kita melakukannya bukan karena terpaksa,
tapi karena kita tahu:
“I’m worth this gentle care.”
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar