Apa Efek Sering Mencuci Muka?
- account_circle langkahsejati
- calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
- visibility 78
- comment 0 komentar

Pernah gak sih kepikiran, kenapa kita suka banget cuci muka?
Kayak, baru bangun tidur—cuci muka.
Baru pulang dari luar—cuci muka.
Abis makan yang berminyak—cuci muka.
Bahkan pas lagi galau pun, kadang kita ke kamar mandi dan… ya, cuci muka.
Tapi pernah gak kita berhenti sebentar dan mikir:
“Sebenernya, kalau terlalu sering cuci muka, itu baik atau malah sebaliknya?”
Karena gini ya, sesuatu yang terlalu sering dilakukan, walaupun tujuannya baik, kadang bisa berujung ke arah yang gak kita harapkan.
Termasuk hal sesederhana mencuci muka.
Kita pikir, makin sering dicuci, makin bersih dong?
Padahal kulit itu bukan piring kotor.
Dia punya keseimbangannya sendiri.
Kulit wajah kita tuh punya lapisan pelindung alami.
Ada yang namanya skin barrier, semacam tembok kecil yang menjaga kelembapan dan ngusir bakteri jahat.
Nah, tiap kali kita cuci muka, terutama kalau pake sabun yang terlalu keras atau air yang terlalu panas, si skin barrier ini bisa rusak pelan-pelan.
Dan pas rusak, dampaknya bukan cuma kering atau ngelupas aja.
Bisa jadi jerawat.
Bisa jadi iritasi.
Bisa juga jadi kulit merah-merah yang gatal, bahkan nyesek kalau kena matahari.
Tapi ya, namanya manusia, kadang kita mikirnya simpel aja:
“Ah jerawatan nih, cuci muka ah biar bersih.”
Eh, malah makin parah.
Lucunya, kadang kita merasa bersalah kalau gak cuci muka berkali-kali.
Padahal… bisa jadi, kita terlalu keras sama diri sendiri.
Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya yang ngajarin: bersih itu baik.
Dan ya, emang baik.
Tapi ada garis tipis antara bersih… dan berlebihan.
Kayak seseorang yang pengen sehat, terus tiap hari olahraga dua jam nonstop, diet ketat, dan stres sendiri kalau makan coklat satu batang.
Intent-nya bagus.
Tapi cara eksekusinya bikin tubuh dan hati kelelahan.

Cuci muka pun gitu.
Bukan tentang sabunnya.
Bukan tentang waslap atau tangan.
Tapi tentang seberapa lembut kita memperlakukan kulit kita.
Tentang seberapa paham kita bahwa kulit itu juga punya batas.
Kadang, kita lupa…
Bahwa kulit adalah organ terbesar yang kita punya.
Dia juga butuh istirahat.
Butuh dipahami.
Dan yang paling penting, butuh dipercaya.
Sama kayak hubungan.
Kalau terus-terusan dikontrol, dipaksa, dimonitor tiap jam—lama-lama rusak juga.
Kulit juga butuh ruang buat nafas.
Buat kerja sesuai ritmenya.
Jadi, apa efek sering mencuci muka?
Ya itu tadi…
Kulit bisa kehilangan minyak alaminya.
Kehilangan kelembapan.
Rusak skin barrier-nya.
Dan malah ngundang masalah baru yang awalnya justru pengen dihindari.
Tapi bukan berarti kita gak boleh cuci muka ya.
Bukan juga jadi cuek, biarin debu nempel seharian.
Kuncinya: keseimbangan.
Dua kali sehari itu ideal.
Pagi buat ngangkat sisa tidur dan minyak semalaman.
Malam buat bersihin sisa makeup, polusi, dan drama seharian.
Dan yang lebih penting dari frekuensi adalah caranya.
Gunakan sabun yang lembut, gak bikin kulit ketarik.
Pakai air biasa, jangan terlalu panas.
Dan kalau bisa, hindari waslap yang kasar, apalagi digosok kuat-kuat kayak lagi nyuci baju.
Kadang, tangan yang bersih jauh lebih penuh kasih.
Lalu… setelah cuci muka, jangan tinggalin dia begitu aja.
Kasih pelembap.
Kasih rasa aman.
Biar dia tahu, kita gak cuma datang pas butuh, tapi juga siap nemenin dia pulih.
Lucu ya.
Dari aktivitas sesederhana cuci muka, kita bisa belajar banyak hal.
Tentang batas.
Tentang perlakuan lembut.
Tentang gak semua yang terlihat bersih, itu artinya sehat.
Dan paling penting…
Tentang bagaimana mencintai diri sendiri dimulai dari hal-hal kecil.
Dari kebiasaan sepele yang, kalau dilakukan dengan sadar, bisa jadi bentuk perawatan paling tulus.
Mungkin setelah ini, kita gak akan lagi buru-buru nyalain kran air tiap merasa wajah “berminyak dikit”.
Mungkin, kita akan tanya dulu ke kulit kita:
“Kamu lagi butuh dibersihin… atau cuma butuh diterima aja?”
Karena ternyata, mencuci muka bukan cuma soal bersih atau nggak.
Tapi juga soal:
Apakah kita udah cukup mengenal dan menghargai kulit kita sendiri?
Dan kadang, dari situ…
kita jadi lebih kenal juga sama diri kita yang sebenarnya.
- Penulis: langkahsejati

Saat ini belum ada komentar